08 Oktober 2011

"Tuhan itu Keren Sekali"

Saat pagi menyambut Jogja dan sekitarnya. Jam tangan baru saja menunjuk pukul 08.15 WIB. Dari kawasan Kepuharjo yang berjarak 6 kilometer dari puncak Merapi, sepanjang jalan yang kini telah berubah menjadi hamparan tanah bergelombang, kami menyaksikan meranggasnya pepohonan yang menghitam. Aneka tanaman yang dulu subur dan menghijau, kini kering dibalut warna hitam terbakar. Rumah-rumah yang hancur berantakan sudah tidak berpenghuni lagi. Kaca-kaca jendela yang pecah dihantam awan panas menghiasi sebagian dinding rumah kelabu dan kusam. Sebagian rumah yang tidak kuat, ambruk menghampar di atas tanah. Kalau kita terus naik mendekati puncak Merapi, maka yang akan kita temui adalah hamparan tanah kosong yang pucat. Lapisan tanah itu terbelah-belah, seperti sebagiannya telah dikeruk menjadi sungai yang tidak ada airnya lagi. Sungai-sungai itu telah menjadi jalur lahar panas—saat Merapi memuntahkan bebatuan dan cairan panas. Yang tersisa kini di sungai-sungai kering itu adalah tanah berasap yang menunjukkan betapa panasnya semburan Merapi. Ujung dari jalur lahar panas itu adalah jalur memanjang di dinding gunung yang terus naik dan berakhir di puncak Merapi. Karena telah menjadi kawasan yang kosong membentang gersang, maka angin pagi yang berembus langsung membentur tubuh tanpa penghalang. Angin itu terasa kencang dan langsung menusuk kulit. Hawa dingin langsung merambati pori-pori tubuh. Menikmati pemandangan alam seperti itu, terasa hati diayun-ayun dalam berbagai rasa yang berkecamuk di antara kekaguman dan kengerian. Seorang petani tua yang rumahnya hancur berantakan, masih termangu di beranda rumahnya. Pada kesempatan pagi menengok rumahnya dari pengungsian, dia berusaha mulai mengorek-ngorek tumpukan tanah, pasir dan debu yang mengotori halaman rumahnya. Saat beliau ditanya, kehilangan apa saja yang dirasakan beliau akibat meletusnya merapi, dia bertutur bahwa seluruh kebun dan ternaknya ludes entah ke mana. Barang-barang di dalam rumahnya pun tiada yang tersisa. Tetapi beliau masih bersyukur bahwa lima anggota keluarganya selamat, meski sempat selama tiga hari beliau kehilangan kontak dengan semua anggota keluarganya, karena tercerai berai, ketika tunggang langgang menyelamatkan diri dari hantaman lahar dan awan panas yang memburunya saat merapi erupsi. Ketika kami bertanya, apakah beliau akan kembali menjalani kehidupan di lereng merapi setelah kehilangan semua harta yang dimiliki dan ancaman Merapi yang mungkin suatu hari meletus lagi? Beliau menjawab dengan tegar, “Saya akan tetap di sini, karena saya sudah biasa hidup di sini, rumah dan kebun saya juga di sini, saya pelan-pelan akan kembali tinggal di sini.” Kami yang mendengarnya getir, karena tidak mengerti tentang makna kecintaan akan lereng Merapi. Kami juga berbincang dengan salah seorang relawan lokal yang hari itu berbusana ala cowboy. Relawan tersebut biasa dipanggil dengan sebutan Mas Ari. Beliau berasal dari desa yang tidak terlalu jauh dari lereng Merapi. Kami bertanya tentang kesan beliau menyaksikan bencana Merapi. Beliau mengatakan: “Tuhan itu keren sekali, mampu meletuskan Merapi dan mengakibatkan dampak seperti ini, saya bersyukur diberi kesempatan untuk bisa selamat dan menyaksikan kedahsyatannya.” Rupanya kesan itu yang telah mendorongnya untuk ikut serta terjun menyusuri satu lokasi ke lokasi lainnya untuk menolong para pengungsi yang menjadi korban letusan Merapi. Diam-diam kami pun belajar dari Mas Ari, bahwa kita tidak dipilih menjadi korban, karena kita sedang diberi kesempatan untuk menjadi peduli dan membantu mereka yang menderita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar