08 Oktober 2011

Menanggung Beban Rakyat

Selesai shalat berjamaah, Umar Bin Khattab merasa heran, karena setiap kali Rasulullah saw menggerakkan tubuh, terdengar suara seperti sendi di tubuh Rasulullah bergesekan. Apalagi ketika Umar melihat wajah Rasulullah terlihat pucat, Umar pun merasa khawatir. Umar pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat, sakitkah engkau ya Rasul ?” Rasulullah pun menjawab : “Tidak, wahai Umar, Alhamdulillah, aku sehat”. Umar pun melanjutkan pertanyaannya : “Mengapa setiap kali Engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi di tubuhmu bergesekan?” Mendengar pertanyaan ini, Rasulullah kemudian mengangkat jubah beliau dan menunjukkan kepada Umar lilitan kain pada perut kempis beliau yang di dalamnya diisi kerikil-kerikil. Melihat hal ini, Umar dengan penuh iba bertanya lagi : “Ya Rasul, apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakan untuk engkau?” Dengan penuh persaudaraan Rasulullah menjawab : “Tidak, Umar. Aku tahu, apapun akan kalian korbankan demi aku. Akan tetapi apa yang harus aku katakan di hadapan Allah nanti, jika sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi umatku?” Sambil memandang Umar dan sahabat-sahabat yang lain, Rasulullah pun melanjutkan : “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akhirat”. Semua sahabat yang mendengar kata-kata tersebut, rasa-rasanya mau menangis. Kutipan kisah Rasulullah saw di atas adalah cermin sikap Rasulullah saw sebagai pemimpin yang tidak ingin menjadi beban bagi rakyatnya. Rasulullah bersikap sebagai pemimpin yang selalu memperhatikan beban yang sedang ditanggung oleh rakyatnya. Pemimpin yang senantiasa memikirkan dan berusaha untuk mengatasi beban yang sedang diderita oleh rakyatnya. Saat ini kita merindukan sosok pemimpin yang peduli atas beban ekonomi masyarakat. Pemimpin yang bekerja keras dalam mengatasi kelaparan di berbagai wilayah. Pemimpin yang mencurahkan perhatian agar kasus gizi buruk yang mendera sebagian rakyat dapat diatasi. Kita merindukan sosok pemimpin yang cepat tanggap dalam mengatasi wabah penyakit dan beban biaya berobat yang terasa memberatkan bagi sebagian rakyat. Kita menantikan kehadiran pemimpin yang menanggung derita atas ketidakmampuan sebagian rakyat untuk mendapatkan, mengolah dan menikmati makanan. Pemimpin yang peduli dalam mengatasi betapa berat dan sulitnya sebagian rakyat untuk sekedar mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup. Pemimpin yang terpanggil untuk terus berusaha bersungguh-sungguh dalam mengatasi kemiskinan. Kita tidak menghendaki memiliki pemimpin yang justru menjadi beban rakyat. Setiap saat ingin dilayani, tetapi jauh dari sikap melayani rakyat. Setiap bulan mendapatkan penghasilan yang bersumber dari uang rakyat, tapi tidak bersungguh-sungguh dalam meningkatkan penghasilan rakyat. Setiap hari menggunakan fasilitas yang diperoleh dari uang rakyat, tetapi tidak bekerja keras dalam memberikan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kita tidak ingin ada pemimpin yang menjadi benalu bagi rakyat, mereka tega memanipulasi dan menggerogoti kesejahteraan rakyat. Pemimpin seperti ini mau mengambil hak rakyat dalam berbagai proyek dan program pembangunan dengan cara korupsi. Mereka bermewah-mewah dan bersenang-senang dari hasil menipu dan menggelapkan uang rakyat. Pemimpin yang tidak mampu menanggung beban rakyat, justru akan membebani rakyat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar