10 Oktober 2011

Berguru Kepada Guru

Pada sebuah rapat komite sekolah swasta di bilangan Jakarta Selatan, sedang dibahas tentang anggaran tahunan sekolah. Rapat itu dihadiri oleh perwakilan yayasan, perwakilan orang tua murdi, dan perwakilan guru. Tiba waktunya pada pembahasan tentang gaji guru, berbagai pendapat dilontarkan. Beberapa orang tua murid mengusulkan untuk menaikkan gaji guru. Salah satu orang tua murid menuturkan bahwa sudah saatnya gaji guru di sekolah tersebut dinaikkan, karena menurut beliau bahwa dedikasi dan kesungguhan para guru di sekolah itu luar biasa. Kualitas pengajaran yang diberikan sekolah tersebut kepada anak didik juga sebanding dengan sekolah-sekolah yang mahal bayarannya. Apalagi sudah beberapa tahun ini gaji guru juga tidak dinaikkan. Nyaris tidak ada satupun orang tua yang berkeberatan dengan usulan tersebut. Akhir-nya semua orang tua murid bersepakat untuk menaikkan gaji guru pada tahun anggaran baru. Menjelang detik-detik palu keputusan hendak diketok oleh pimpinan rapat, tiba-tiba Pak Pepen salah seorang yang mewakili para guru dalam rapat tersebut berbicara: “Kami menghargai rencana komite sekolah untuk menaikkan gaji para guru. Kami pun mengerti alasan dan penghargaan orang tua murid kepada kami. Tapi kalau boleh berpendapat, biarlah kami para guru tidak menerima kenaikan gaji guru sekarang. Kami belum memberikan yang terbaik bagi anak didik di sekolah. Lagian masih banyak orang tua murid yang masih lalai memenuhi kewajibannya. Jadi kami mohon janganlah kenaikan gaji guru itu dinaikkan sekarang, mungkin pada wakti lain di masa yang akan datang saja. Mendengar pernyataan Pak Pepen ini, sontak semua peserta rapat terdiam. Ada keharuan yang dalam menjalar di seluruh ruangan rapat itu. Beberapa orang tua murid tak kuasa meneteskan air mata. Salah seorang dari orang tua murid dengan terbata-bata dan menahan sesak di dada berujar: “Para guru kami mohon tidak berkeberatan dinaikkan gajinya, ini sesungguhnya bentuk penghargaan kami yang belum sebanding dengan segala hal yang telah dikerjakan guru-guru di sekolah ini, kami mohon usulan ini diterima”. Rapat akhirnya memutuskan untuk menaikkan gaji guru di sekolah itu. Kejadian di atas kadang sangat kontras dengan perilaku sebagian guru di Indonesia. Mereka jarang datang ke sekolah. Mengajar di kelas dengan asal-asalan. Atau datang di kelas cuma memberi tugas, sementara dirinya berkeliaran ke mana-mana. Kalau ada anak-anak yang kesulitan dididik langsung dibentak dan dimarahi. Tidak sedikit yang kadang-kadang sampai memukul anak didiknya. Tapi kalau soal menagih kenaikan gaji paling duluan. Sedikit-sedikit mereka minta kenaikan gaji, peningkatan tunjangan dan perbaikan fasilitas. Terhadap guru yang seperti ini kadang kita tidak rela kalau mereka dinaikkan gajinya. Seandainya perilaku para guru teladan seperti Pak Pepen di atas dicontoh oleh para guru lainnya, maka memang sudah sepantasnya apabila kesejahteraan para guru dinaikkan. Profesi guru harus menjadi profesi terhormat di tengah kehidupan bangsa ini. Profesi guru harus menjadi profesi yang serius penuh dedikasi dan kompetensi. Kita semua harus memperlakukan guru dengan penuh kebanggaan dan penghormatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar