08 Oktober 2011

Bayi Peradaban

Bayi Musa terapung-apung di atas aliran sungai Nil. Dengan hati cemas Ibu Musa terus memikirkan nasib anaknya. Akankah bayi Musa selamat dan tumbuh menjadi manusia dewasa ? Ataukah ia akan terbawa aliran sungai dan akhirnya tenggelam entah kemana ? Ataukah bayi Musa akan jatuh kepada tentara Firaun dan akhirnya akan membunuhnya. Raja Firaun memang telah memerintahkan agar membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di negeri Mesir, karena khawatir dengan ramalan bahwa akan lahir seorang bayi laki-laki yang akan menghancurkan kekuasaannya. Bayi itu ternyata akhirnya ditemukan Putri Firaun dan ditunjukkan kepada Aisah, Istri Firaun. Sang Permaisuri Firaun ternyata terpesona dengan lucu dan manisnya bayi Musa. Ia pun berkeras hati untuk memelihara dan merawat bayi itu, meskipun Firaun sudah memperingatkannya. Jadilah bayi Musa kini tinggal di istana, hidup dalam perawatan permaisuri raja. Di Istana, Musa pun tumbuh dan berkembang dalam dukungan dan kenyamanan istana Firaun. Kelak, setelah Musa dewasa jadilah ia seorang Nabi yang berjuang untuk melakukan perubahan masyarakat. Musa adalah seorang Nabi yang membangun peradaban baru masyarakat yang sesuai dengan petunjuk Illahi dan melumpuhkan peradaban menyimpang yang dipelopori oleh Firaun, seorang raja yang zalim. Beribrah kepada sejarah Nabi Musa as tersebut, kita dapat memandang Sekolah Alam Indonesia (SAI) sebagai seorang bayi. Setelah melewati masa embrio saat berlokasi di Jalan Damai dan masa di kandungan saat berpindah di Jalan Anda Ciganjur, kini SAI bagai sedang terapung-apung. Apakah SAI akan tetap sebagai sekolah menumpang (dengan menyewa di tanah orang) atau akan menjadi sekolah dengan lokasi yang mulai stabil ? Atau apakah SAI akhirnya tergulung oleh sejarah, karena tidak mampu mempertahankan eksistensinya, atau akan tumbuh semakin kuat dan mapan menjadi sesuatu yang menentukan laju sejarah pendidikan di Indonesia. SAI sesungguhnya adalah bayi peradaban mulia yang dinantikan. SAI adalah salah satu unsur penentu dari terbentuknya infrastruktur peradaban, khususnya dalam rangka melahirkan generasi unggul. Sebuah saung penggemblengan dari calon pemimpin masyarakat tercerahkan yang akan mewarnai peradaban mulia. Sebuah wahana peluncuran generasi baru yang akan mampu menopang tegaknya peradaban cemerlang. SAI adalah salah satu mata rantai untuk melakukan susur balik kembalinya pranata masyarakat berwawasan ajaran para Nabi. Kini SAI masih terapung-apung. SAI masih terus mengalir menuju pilihan sejarahnya. Apakah SAI akan tenggelam, menjadi biasa saja atau akan menjadi ikon perubahan pendidikan dan masyarakat ? SAI kini menantikan sosok-sosok penolong seperti Aisah yang akan memindahkan SAI dari keterapungan pada kematangan perkembangan. SAI kini memerlukan area dan lingkungan yang lebih nyaman untuk mengartikulasikan segala jalan impiannya. SAI saat ini memerlukan batu pijak baru yang lebih kuat untuk menyokong pertumbuhan dan akselerasinya. Apabila SAI akhirnya akan memiliki tempat yang memungkinkan keleluasaannya untuk tumbuh dan berkembang, maka SAI akan memiliki kesempatan untuk kokoh melangkah dalam rentang waktu yang panjang. Setiap kita yang tergerak dan turut serta dalam mengantarkan SAI pada fase kedewasaannya, berarti kita menjadi bagian yang akan mengantarkan SAI pada keberlanjutannya. Setiap kita yang berkontribusi dalam menempatkan SAI pada lahan sejarah besarnya, berarti kita telah berinvestasi jangka panjang dalam meretas terwujudnya keindahan peradaban mulia. Bayi peradaban itu masih terapung-apung. Bayi itu kini melintas di hadapan kita. Bayi itu berada dalam jarak yang dekat dengan pergelangan tangan kita. Bayi itu kini menanti kita, apakah kita akan membiarkannya saja, mencampakkannya sehingga malah semakin terhanyut dan tenggelam, atau kita akan mengulurkan tangan untuk menolongnya. Kini semua terpulang kepada kita, langit sejarah akan mencatat apa yang akan terjadi. Ahmad Juwaini Orang Tua Murid Sekolah Alam Indonesia Tulisan ini bersumber dari Bulletin MSI Sekolah Alam Indonesia Ditulis dalam rangka menggugah masyarakat untuk mendukung pembelian (penyediaan) lahan bagi Mewujudkan Sekolah Impian – Sekolah Alam Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar