22 Juni 2011

Revolusi Social Media

Lima tahun terakhir ini, bisa kita sebut sebagai era social media. Sebuah masa dimana interaksi antarmanusia banyak dipengaruhi oleh media internet yang menggunakan fasilitas aplikasi untuk bersosialisasi. Bermula dari Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa ilmu komputer di Amerika, yaitu Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes yang meluncurkan Facebook pada Februari 2004. Facebook adalah layanan jejaring sosial yang memungkinkan setiap orang untuk menampilkan profil, memasang status, bertegur sapa, menyampaikan pesan, termasuk sharing foto dan video.
Media sosial lain yang sangat populer dan banyak digunakan adalah twitter. Twitter adalah sebuah micro-blogging yang berfungsi sebagai jejaring sosial. Twitter didirikan oleh tiga orang yaitu Jack Dorsey, Biz Stone, dan Evan Williams pada bulan Maret tahun 2006. Dan baru diluncurkan bulan Juli pada tahun yang sama. Berbeda sedikit dengan Facebook, Twitter memungkinkan pengguna untuk mudah menyampaikan pesan atau status secara khusus kepada semua teman atau follower-nya.
Dampak media sosial ini sungguh sangat luas. Pada awal tahun 2010, kelompok oposisi di Iran mencoba menggunakan internet dan media sosial untuk menggalang perlawanan terhadap pemerintahan berkuasa di sana. Serangkaian protes dan demonstrasi dilakukan, meskipun akhirnya perlawanan ini bisa digagalkan.
Media sosial mendapatkan momentumnya, ketika terjadi revolusi di Mesir. Salah satu motor perubahan bagi jatuhnya kekuasaan Husni Mubarak adalah Wael Ghonim, seorang eksekutif Google di Timur Tengah. Ghonim melancarkan perlawanan melalui Facebook sejak Juli 2010, saat polisi Mesir menembak rakyat sipil tak berdosa di Alexandria. Pesan-pesan Ghonim mendapatkan apresiasi yang sangat luas dari rakyat Mesir. Ketika kelompok oposisi melancarkan demonstrasi menentang Mubarak pada awal 2011, mereka juga mengorganisasikan dirinya di Facebook dengan lebih dari 200 ribu pendukung, dimana Ghonim menjadi salah satu tokoh kunci. Selain Facebook, Ghonim juga memaanfaatkan twitter untuk melancarkan kampanye bagi jatuhnya kekuasaan Husni Mubarak. Ghonim juga sempat mendekam di penjara, akibat pesan-pesan yang ditulisnya di Facebook dan Twitter selama masa revolusi Mesir. Belakangan kita tahu, pada tanggal 11 Februari 2011, Husni Mubarak mundur dari jabatannya.
Di Indonesia, Facebook juga telah memainkan peran sosialnya. Usman Yasin menggagas lahirnya grup gerakan “Sejuta Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto” yang mampu menghimpun member lebih dari 1.000.000 orang. Grup ini telah menjadi penekan yang efektif bagi pembebasan Bibit dan Chandra dalam kasus “Cicak dan Buaya” yang fenomenal. Bibit dan Chandra kemudian bebar-benar dibebaskan melalui terbitnya SKPP dari Kejaksaan pada tanggal 1 Desember 2009.
Kasus kedua di Indonesia yang kemudian terbukti efektif memanfaatkan media sosial adalah kasus Prita Mulyasari yang dituduh mencemarkan nama baik RS. Omni Internasional Tangerang. Atas pencemaran nama baik ini, Pengadilan Tinggi Banten menjatuhkan hukuman berupa denda kepada Prita sebesar Rp 204 juta. Para pendukung Prita kemudian mendirikan grup di Facebook untuk mengumpulkan simpati berupa koin (uang logam) guna membayar denda tersebut. Ratusan ribu pendukung dan anggota masyarakat yang kemudian menyumbang koin karena bersimpati kepada Prita. Lebih dari Rp 600 juta akhirnya uang koin yang terkumpul untuk membayar denda yang ditanggung Prita. Prita sendiri mengapresiasi banyaknya koin yang terkumpul dengan pernyataannya : "Uang koin untuk saya adalah simbol dari rakyat kecil yang berjuang menuntut keadilan yang tidak mereka dapatkan, seperti yang saya hadapi."
Masih banyak sesungguhnya peran media sosial dalam perubahan masyarakat di Indonesia dan dunia. Media sosial kini bukan hanya telah memengaruhi revolusi di sebuah negara seperti Mesir, tetapi juga sebagai sebuah media interaksi antar manusia media sosial telah melakukan revolusinya sendiri dengan segala lompatan perubahannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar