15 November 2010

Kurban Jangan Menumpuk di Kota

Pemerintah Indonesia telah menetapkan Hari Raya Idul Adha 1431 Hijriyah jatuh pada Rabu, 17 November 2010. Namun, ada pula ormas Islam, seperti Muhammadiyah yang menetapkan Idul Kurban pada Selasa, 16 November 2010. Seluruh umat Muslim yang memiliki kelapangan rezeki disunah kan untuk menyembelih hewan kurban.

"Daging kurban harus sampai ke orang-orang yang betul-betul membutuh kan, yaitu orang-orang miskin di daerah-daerah pelosok. Kurban itu harus kita tebarkan dan tidak menumpuk di kota-kota besar saja," ujar Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, kepada Damanhuri Zuhri, wartawan Republika. Berikut petikan wawancara tentang pentingnya ibadah kurban.


Bagaimana kurban dengan konteks saat ini, terutama Indonesia tengah dilanda banyak bencana?
Sebenarnya salah satu daerah yang paling membutuhkan itu adalah daerah-daerah yang banyak pengungsi, misalnya daerah bencana. Karena orang yang mengungsi itu kan sedang kehilangan sumber daya. Mungkin sebelumnya dia punya ternak, tapi ternaknya sudah terkena bencana. Atau dulunya dia punya banyak makanan, tapi sekarang tidak lagi punya apa-apa.
Saat ini, mengirimkan daging kurban ke daerah bencana tentu yang paling tepat sasaran. Kalaupun mereka mendapatkan makanan di pengungsian, makanannya sangat terbatas. Kadang-kadang, mohon maaf, makanan yang diberikan pun hanya makanan standar.
Sekali-kali kita berilah makanan yang lebih baik, yakni daging kurban. Dengan demikian, mereka ikut merasakan kebahagiaan pada Hari Raya Kurban ini. Selain merasa bahagia bisa menikmati hewan kurban, mereka juga akan merasa masih diperhatikan saudara-saudaranya.

Lantas, bagaimana kita harus mengambil hikmah dan makna kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim AS?
Sebetulnya, kurban itu mengajarkan sebuah sikap bahwa kebahagiaan hidup itu bisa diraih dengan kita mau berkurban. Yakni, memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan. Kita merasa bahagia kalau kita bisa membuat orang lain tersenyum. Kebahagiaan dan senyum orang lain itu muncul sebagai proses karena kita memberikan kebahagiaan kepadanya.

Bagaimana ibadah kurban yang mampu meningkatkan solidaritas?
Kurban adalah hubungan kita memberikan sesuatu, kepedulian, dan perhatian kepada orang lain. Itu melahirkan sebuah pemahaman kepada orang-orang dhuafa, ternyata orang kaya itu tidak selalu pelit, ternyata orang kaya itu tidak selalu kikir. Ternyata, mereka merasakan bahwa kita ikut menderita dengan menunjukkan dalam bentuk hewan kurban yang dibagikan kepada mereka.
Dengan demikian, muncul kebersamaan antara orang dhuafa dan orang kaya. Karena, bisa jadi yang saat ini memberi, suatu saat akan menjadi korban dan sebaliknya. Kemudian, terbangun sebuah solidaritas dan soliditas di antara umat Islam. Sesungguhnya orang kaya dan orang miskin adalah satu kesatuan sebagai umat Islam.

Bisa dijelaskan program kurban yang dilakukan Dompet Dhuafa Republika selama ini?
Sebuah proses kegiatan kurban tidak seperti di masa lalu. Kalau di masa lalu, orang biasa menyembelih hewan kurban di dekat masjid dekat rumahnya sehingga pada akhirnya daging kurban menumpuk di kota-kota besar. Sementara, di sebagian yang lain, sebagian besar masyarakat Indonesia yang hidup kekurangan tak mendapatkan distribusi hewan kurban. Apalagi, masyarakat yang miskin di daerah-daerah pedalaman dan pedesaan banyak yang kekurangan protein.
Untuk itu, kami merintis agar daging kurban bisa sampai ke orang-orang yang betul-betul membutuhkan, yaitu kaum miskin dan menyentuh ke daerah-daerah pelosok. Hal itu dilakukan lewat program Tebar Hewan Kurban (THK) untuk menunjukkan bahwa kurban itu memang kita tebarkan dan tidak menumpuk di kota-kota besar.

Apa manfaat yang dirasakan dengan program THK tersebut?
Manfaat yang dirasakan, bukan sekadar soal mengirimkan daging, melainkan juga mengirimkan sumber daya ekonomi. Karena kita memanfaatkan peternak di daerah tujuan distribusi dengan membeli hewan ternaknya.
Jadi, dari Jakarta kita hanya mengirimkan uang ke daerah-daerah untuk kemudian membeli hewan-hewan ternak dari peternak di daerah tujuan distribusi. Dengan model ini, selain mendistribusikan daging kurban, kita juga mendistribusikan sumber daya ekonomi di daerah.
Pada zaman dulu, kalau mau berkurban, seseorang membeli kambing lalu membawanya ke masjid dekat rumahnya untuk disembelih, kemudian dibagikan kepada masyarakat di sekitar. Nah, di Dompet Dhuafa kita menyediakan kesempatan kepada orang yang ingin berkurban dalam bentuk menyetorkan uang tunai, lalu uang tunai itu kita transfer ke daerah-daerah untuk membeli hewan ternak, kemudian disembelih di daerah tersebut.

Nilai plusnya, ekonomi di daerah berputar?
Betul. Kita tidak hanya mengirimkan daging ke daerah pelosok, tapi juga uang. Jadi, ada pengaliran dana dari perkotaan ke daerah-daerah pelosok. Dalam Alquran disebutkan, "Likay laa takuuna duulatan bainal aghniyaa," (Jangan sampai kekayaan hanya berputar di orang-orang kaya saja). Jadi, program ini memiliki banyak manfaat. Membagikan kepedulian, membagikan daging, protein, serta membagikan sumber daya ekonomi.

Kapan persisnya kali pertama Dompet Dhuafa Republika melakukan program Tebar Hewan Kurban?
Pertama kali kami lakukan pada 1994 dengan menebar 99 hewan kurban. Setelah itu, kami menebar 999 hewan kurban. Angka itu kita pilih karena itu angka-angka ajaib.

Bagaimana respons umat sendiri?
Ternyata responsnya sangat luar biasa. Banyak di antara mereka bilang, "Kita sebenarnya sudah bosan memakan daging kurban." Bahkan, buat orang-orang kaya, memakan daging sudah harus dihindari. Mengapa kemudian daging kurban itu harus bolak-balik ke kita lagi. Karena, kalau kita berkurban di kota, dagingnya akan kembali lagi ke kita.
Memang dibolehkan daging itu dikonsumsi oleh yang berkurban, jadi tidak haram, tapi kalau daging itu dinikmati oleh orang-orang yang sangat membutuhkan, saya kira lebih tepat. Jadi, manfaatnya luar biasa dengan cara mengirimkan uang ke daerah pelosok untuk dibelikan hewan kurban di pelosok.
Akhirnya, masyarakat antusias untuk melakukan prosesi kurban seperti itu. Dan, ketika konsep ini dinilai bagus, akhirnya banyak lembaga yang mengikuti pola kurban seperti ini. Dengan demikian, yang menikmati hewan kurban jauh lebih banyak lagi di berbagai daerah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar