14 September 2009

Profil Ahmad Juwaini di Republika

Berikut Profil ahmad Juwaini yang ditulis Republika
Minggu, 13 September 2009, halaman 1
Terobosan Penggalangan Zakat

sosok

AHMAD JUWAINI


Obsesi kebanyakan orang, lulus kuliah mendapat pekerjaan di perusahaan besar, mendapat penghasilan besar, plus jabatan strategis. Tak heran, keputusan Ahmad Juwaini (40 tahun) memilih bergabung mengelola zakat di Dompet Dhuafa (DD) Republika sempat mengejutkan kawan-kawannya.

Apalagi, saat itu ia sedang bekerja menangani proyek Pemda Jabar dengan Bank Dunia. "Gaji yang ditawarkan DD hanya 50 persen dari gaji saya sebelumnya,’‘ ungkap Ahmad mengenang pertama kali masuk DD Republika tahun 1996. ‘’Tapi, saya setuju dan siap bergabung di Dompet Dhuafa.’‘

Jika berpikir realistis, akunya, ia sulit menerima penghasilan yang jauh berkurang itu. Lebih-lebih, hijrah ke Jakarta bukan ha -nya akan menghadapi tantangan yang berat, melainkan juga membutuhkan pengeluaran yang besar. Tapi, setelah dijalani, Ahmad tidak meng -alami hambatan hingga kini memasuki tahun ke-13.

Kenyamanan di kantor baru itu terwujud, karena dia bersama teman-teman seangkatannya memiliki semangat keislaman yang tinggi untuk mengimplementasikan zakat. Pada sisi lain, ia merasakan pekerjaan yang dilakoninya ada unsur pengorban. Tiap pengorbanan pasti ada balasan, kata lulusan manajemen Universitas Padjadjaran, Bandung, ini. Dari semangat yang sama itulah, Ahmad menemukan jawaban. Ternyata, penghasilan bukan segala.Yang pen ting saat bekerja ada kenyamanan, dan kita bisa mengembangkan diri mela kukan sesuatu untuk kepen tingan orang banyak,katanya.

Jalan karier
Pada awal kariernya, Ahmad mendapat jabatan sebagai kepala bagian keuangan. Lalu, beralih menjadi kepala bagian pengembangan dan bisnis. Pada posisi inilah, Ahmad perlu melakukan terobosan-terobosan baru agar umat Islam mau mengeluarkan zakat. Sebab, masih banyak pemikiran dangkal yang menganggap zakat dikeluarkan hanya untuk menggugurkan kewajiban. Zakat dikeluarkan menjelang Lebaran, lalu dibagi-bagikan ke fakir miskin. Setelah Lebaran, si miskin kembali miskin.

Padahal, jelas Ahmad, implementasi zakat tidak demikian. Zakat tak hanya untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, melainkan juga jangka panjang. Bagaimana dengan berzakat bisa membantu meningkatkan taraf hidup orang miskin agar menjadi lebih baik. Salah satu caranya melalui pemberdayaan ekonomi. Jika ini dilaksanakan dengan benar, angka kemiskinan di Indonesia bisa semakin turun,katanya.

Untuk menarik minat umat gemar berzakat, tambahnya, perlu melakukan pendekatan persuasif. `fKita tidak memakai dalil ancaman, yang tidak berzakat masuk neraka. Tapi, melahirkan ide-ide kreatif dan inovatif untuk memengaruhi dan meyakinkan umat,ff kata ayah tiga anak ini.

Kartu ukhuwah
Terobosan menarik ditempuh DD sejak awal berdiri. Pada tahun 1996-1997, DD membuat kartu ukhuwah untuk berzakat, yang sekaligus bisa digunakan sebagai ATM. Selain itu, DD juga membuat stiker-stiker `orang taat bayar zakat, pameran lukisan yang hasil donasinya untuk zakat, dan membayar zakat melalui internet. Jemput bola pun dilakukan di kawasan orang-orang kaya singgah. Salah satunya, counter di bandara dan membagikan brosur di pintu tol.

Kita mencegat orang-orang kaya di mana pun mereka berada. Kita pun memberi pelayanan semudah mungkin saat mereka ingin membayar zakat. Istilahnya, hanya dengan kedipan mata saja mereka bisa membayar zakat. Makanya, di manamana bertebaran counter zakat,papar Ahmad.

Langkah lainnya, tambah Ahmad, tim DD turun langsung ke lapangan. Di antaranya, mempresentasikan mengenai zakat ke perusahaan-perusahaan di gedung bertingkat di Jakarta. Setiap ada kesempatan seminimun mungkin harus dimanfaatkan. Usai shalat Jumat di perkantoran-perkantoran, setelah imam turun, tim DD Republika langsung naik ke mimbar mencuri perhatian. Dalam waktu lima menit, menyampaikan pesan zakat seefektif mungkin. Kadang jamaah sudah bubar, tinggal beberapa orang. `fYang penting pesan sampai ke umat, kata Ahmad.

Penyaluran
Zakat yang terkumpul lalu dikelola, kemudian diberikan kepada yang berhak. Setiap ada bencana di seluruh Indonesia, Ahmad bersama para relawan turun langsung ke lapangan. Banyak pengalaman di lapangan yang membuatnya menitikkan air mata.

Ia melihat banyak ironi. Di antaranya, ketika ia mengetahui banyak relawan bekerja keras membangun rumahrumah untuk korban gempa di Yogyakarta. Ketika pulang, sang relawan malah diusir oleh ibu indekos karena menunggak pembayaran uang indekos.

Ahmad pun tak tahan menitikkan air mata melihat ekspresi anak-anak jalanan ketika mendapat bantuan rumah dari DD di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Anak-anak jalanan itu memberi bingkisan lagu ciptaan sendiri. Terlihat ekspresi mereka sangat tulus. Itu yang membuat saya tersentuh dan menangis, ungkap suami Leis Suzanawaty ini.

Dia juga terharu ketika memberi beasiswa kepada anak desa kurang mampu, yang lulus masuk ke Universitas Indonesia (UI). Setelah lulus kuliah, dia bekerja di perusahaan besar, dan kini sarjana UI tersebut rutin memberi zakat untuk membantu anak-anak seperti pengalaman dirinya, katanya.

Ahmad menduga bila ia tidak bekerja di lembaga semacam DD, belum tentu bisa memberi perhatian lebih terhadap orang-orang dhuafa. Karena itu, tak henti-henti ia bersyukur, ternyata masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih susah dari dirinya. Kini, tambahnya, setiap ada orang datang yang membutuhkan bantuan, tidak berani ia menolaknya. Karena saya khawatir, ketika menolak ternyata `orang yang datang itu adalah malaikat. Jangan sampai itu terjadi, akunya.

Harapan
Ke depan, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa Republika ini mengharapkan, setiap umat tergerak untuk menyerahkan 2,5 persen dari penghasilannya. Dari jumlah tersebut, jika dikumpulkan dan dikelola dengan baik, hasilnya akan luar biasa. Menurut Ahmad, tidak tertutup kemungkinan, dari hasil zakat umat Islam bisa memiliki rumah sakir bertaraf internasional gratis, membangun sekolah unggulan gratis, dan bahkan kampus unggulan gratis bagi semua mahasiswa kurang mampu.

Berkah zakat, tambahnya, tidak hanya dirasakan oleh penerima zakat, tetapi juga oleh pemberi zakat. Umat Islam pasti bangga memiliki bentuk fisik dari hasil zakat yang bisa dirasakan seluruh umat, katanya. (susie evidia)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar